Mengungkap “The Da Vinci Code”
Cracking bagus nih buat yang bingung sama the da vinci code, apalagi klo yg nonton versi bioskop di mana translatean subtitlenya di sensor (pdhl englishnya ga mudeng)… ini bisa jd gambaran inti permasalahan sebenernya
klo blom puas juga ya coba aja next week dengerin penjelasan Jim Heugel, ahli medieval history dr univ of washington n juga ahli sejarah gitu2 deh di www.iesjakarta.org (cuma in english
)
Mengungkap "The Da Vinci Code" Indonesia , sama dengan Hollywood yang sangat terkenal, dan sana . Hal ini antara kota Nicea pada tahun 325. Detil ruangan Museum Louvre, tempat kisah ini Santa Maria delle Grazie di
kota Milan , Italia. gaya 16:13 -20). baku , atau kanon, dari kitab-kitab Perjanjian surat Perjanjian surat sangat menentukan demi memastikan kekokohan
Oleh: Pdt Dr Ir Bambang Wijaya
Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia
THE Da Vinci Code adalah salah satu novel terlaris dekade ini, sejak
diterbitkan pada 2003, di seluruh dunia buku ini telah terjual lebih
dari 40 juta copy!
Bila jumlah tersebut didistribusikan di seluruh
setiap rumah tangga memiliki sebuah buku tersebut.
Buku ini tentu dapat berdampak pada pola pikir masyarakat. Dampak yang
diharapkan secara jelas dituliskan pada sampul depan edisi bahasa
Indonesianya, yaitu "memukau nalar, mengguncang iman!"
Dampak yang dalam edisi bahasa Inggris tidak dicantumkan ini, dapat
semakin besar dengan tayangan versi layar lebarnya, melalui film yang
dibintangi Tom Hanks, aktor
diluncurkan serempak di seluruh dunia pada 19 Mei 2006 ini.
Buku ini memang diharapkan untuk mengguncang iman karena novel ini,
edisi bahasa Indonesianya setebal
624 halaman, terang-terangan menghujat pokok-pokok iman Kristiani.
Berikut adalah hujatan tersebut yang merupakan pandangan si penulis:
1. Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa.
Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawilah yang menjadikan Yesus sebagai
Tuhan, melalui konsili Nicea pada tahun 325 demi kepentingan politiknya.
2. Kitab Perjanjian Baru yang digunakan oleh orang
Kristen saat ini adalah himpunan dari kitab-kitab yang disusun oleh
Kaisar Konstantin melalui konsili Nicea.
Sedangkan kitab-kitab suci yang benar, yaitu yang digunakan oleh para
pengikut Yesus yang asli, justru dibakar berdasarkan putusan konsili
tersebut sebab berisikan "kebenaran" yang sesungguhnya, yaitu bahwa
Yesus adalah seorang manusia biasa dan bukan Tuhan.
3. Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki
seorang putri. Maria terpaksa harus mengungsi ke Prancis, berlindung di
antara masyarakat Yahudi dan melahirkan anaknya di
lain dikarenakan rasul Petrus merasa cemburu sebab Maria Magdalena,
sebagai seorang perempuan, telah dipilih oleh Yesus untuk menjadi kepala
gereja.
telah memadukan:
1. Cerita-cerita khayalan, fiksi
2. Fakta-fakta sejarah
3. Data yang tidak akurat dan tafsiran yang melenceng terhadap beberapa fakta sejarah
4. Keyakinan teologisnya yang bersifat anti Kristen
Karena keempat hal tersebut dijalin rapi di dalam sebuah tulisan yang
rancak dan dengan setting cerita thriller yang menarik, menegangkan
serta penuh kejutan, maka dengan mudah orang terhanyut dalam alur cerita
tanpa dapat membedakan fakta dan fiksi.
Akibatnya bagi yang tidak paham sejarah gereja dengan mudah akan
terperangkap kedalam jerat keyakinan teologis sang penulis. Bahkan,
orang dapat terbawa kepada ajaran sang penulis yang merupakan ajaran
kafir, seperti memandang hubungan seks bebas sebagai sarana untuk
berhubungan dengan Tuhan.
Ringkasan Plot Cerita
Buku ini diawali dengan pembunuhan terhadap Jacques Sauniere, kurator
Museum Louvre, di Paris, oleh Silas seorang biarawan berkulit albino,
demi mendapat rahasia batu kunci Priory of Sion, karena di situ termuat
informasi tentang letak Cawan Kudus (Holy Grail), yaitu cawan yang
digunakan oleh Yesus dalam perjamuan kudus terakhir bersama para
murid-Nya.
Sebelum meninggal Jacques Sauniere sempat memberi petunjuk sandi yang
mengakibatkan Robert Landon, ahli ilmu simbol dari Universitas Harvard,
ikut terlibat dalam kasus ini.
Robert Landon lalu bekerjasama dengan Sophie Neveu, ahli ilmu sandi
pemerintah Prancis, yang juga cucu perempuan Jacques Sauniere. Dalam
upaya ini, keduanya terus diburu oleh Kapten Bezu Fache, anggota reserse
kriminal Prancis, dan Silas. Kapten Bezu ingin mengungkap kasus
pembunuhan, sedangkan Silas ditugasi pemimpin Opus Dei, sebuah
organisasi rahasia Gereja Katolik, demi menyelamatkan Gereja Katolik.
Di tengah cerita, Robert Landon dan Sophie Neveu berjumpa Sir Leigh
Teabing, ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus. Teabing memaparkan
berbagai "rahasia gereja", di antaranya: Yesus hanyalah manusia biasa
yang menikah dengan Maria Magdalena. Sehingga demi kepentingan
politiknya Kaisar Romawi Konstantin menetapkan Yesus sebagai Tuhan
melalui sebuah konsili (sidang gereja) di
Dalam konsili tersebut diputuskan semua "kitab suci yang benar", yang
menyatakan Yesus manusia biasa, dilarang dan dibakar. Sedangkan para
"pengikut Yesus yang asli", yaitu mereka yang tak mempercayai ketuhanan
Yesus ditetapkan sebagai kaum bidat, dan harus dimusnahkan.
Lebih jauh Teabing menjelaskan Leonardo da Vinci, yang adalah anggota
serikat rahasia Priory of Sion, mengetahui rahasia pernikahan Yesus
dengan Maria Magdalena, sehingga tugas serikat ini menjaga rahasia itu.
Namun Leonardo da Vinci membocorkannya melalui lukisannya yang sangat
terkenal, The Last Supper (Perjamuan Malam yang Terakhir) yang
melukiskan suasana perjamuan Paskah sebelum Yesus ditangkap.
Lukisan tersebut menyembunyikan beberapa kode yang menunjukkan Maria
Magdalena adalah istri Yesus.
Kode-kode tersebut diantaranya: tidak adanya gambar Cawan Suci pada
lukisan tersebut. Orang yang duduk di sebelah kanan Yesus, sesungguhnya
adalah gambar Maria Magdalena, bukan rasul Yohanes. Posisi tubuh Yesus
dengan Maria Magdalena di dalam lukisan tersebut membentuk huruf V,
supaya orang yang mencari-cari gambar Cawan Suci akan menangkap kode
huruf V ini, mendapati sesungguhnya Maria Magdalenalah Sang Cawan Suci
yang mereka cari.
Huruf V merupakan simbol dari cawan yang juga simbol seorang perempuan,
dan Leonardo memakai Cawan Suci sebagai kode untuk memberitahukan Yesus
menikah dengan orang yang duduk di sebelah kanan-Nya, yaitu Maria
Magdalena. Lukisan itu juga ingin memberitahukan betapa bencinya rasul
Petrus kepada Maria Magdalena, sebab Maria telah dipercaya Yesus untuk
memimpin gereja. Di situ dilukiskan wajah Petrus penuh amarah dengan
jari telunjuknya diarahkan ke leher Maria Magdalena.
Teabing juga menjelaskan Gereja Katolik telah berkonspirasi menutupi
fakta Yesus hanya manusia biasa, danVatikan mengetahui kebohongan
ajaran kalau Yesus adalah Tuhan. Rahasia ini dijaga demi mempertahankan
kekuasaan gereja.
Kejutan di akhir cerita, terungkap bahwa ternyata Teabing-lah tokoh
kunci dalang pencarian batu kunci Priory of Sion, dan bahwa Sophie Neveu
adalah keturunan Maria Magdalena dari perkawinannya dengan Yesus.
Seperti yang saya kemukakan di atas, Dan Brown, menulis novelnya dengan
sangat licin. Dia menjalin beberapa fakta dan fiksi, atau kisah khayal,
sehingga orang awam yang tak paham sejarah gereja sulit membedakannya.
Akibatnya pembaca buku tersebut dapat menganggap bagian-bagian fiksi
sebagai fakta.
Pelbagai fakta yang disisipkan oleh Dan Brown dalam novel fiksi ini
antara lain:
1.
dimulai, dan detil dari kapel Rosslyn di Skotlandia, yang dikisahkan
sebagai tempat disimpannya cawan suci.
2. Penyelenggaraan Konsili Nicea atas permintaan
Kaisar Konstantin, yang juga menetapkan bahwa para pengikut Arius yang
tak mempercayai keilahian Yesus sebagai bidat.
3. Kedangkalan kekristenan Kaisar Konstantin,
sehingga misalkan ia hanya mau dibaptis menjelang saat ajalnya, dan
diserapnya beberapa praktik agama kafir ke dalam kehidupan gereja
khususnya sejak Kaisar Konstantin mengeluarkan edik toleransi pada tahun
313.
Edik toleransi ini memang pada satu sisi bersifat positif bagi orang
Kristen karena penganiayaan terhadap mereka dihentikan, namun di sisi
lain bersisi negatif sebab telah mengakibatkan gereja mengalami
kemerosotan spiritual sehingga terjerumus ke dalam abad-abad kegelapan.
4. Sebagian dari detil lukisan The Last Supper,
karya Leonardo Da Vinci yang terdapat pada dinding gereja
5.Serikat Piory of Sion dan Opus Dei yang memang ada dalam lingkup
Gereja Katolik. Hanya saja lembaga-lembaga tersebut didirikan bukan
untuk melakukan kegiatan rahasia seperti yang ditulis Dan Brown.
fiksi, khayalan Dan Brown. Data yang dikemukakannya tidak akurat,
tafsirannya melenceng dari fakta sesungguhnya. Namun karena
penyajiannya sangat meyakinkan, maka pembaca yang tidak menggunakan
nalarnya secara kritis akan menganggap itu semua fakta yang benar.
Pembaca seperti ini akan mudah terperangkap dalam alur pikir Sophie,
tokoh dalam novel ini, saat ia terpengaruh oleh ceramah Leigh Teabing,
yang sesungguhnya adalah indoktrinasi dari Dan Brown.
Sebaliknya apabila ketidakakuratan dan tafsir yang melenceng tersebut
diungkap, dan pada saat yang sama ditunnjukkan bagian fiksi novel
tersebut, maka dengan mudah pembaca yang berpikiran jernih dan obyektif
dapat menangkap kelicinan dan kesalahan pandangan Dan Brown, dan
sekaligus akan melihat kebenaran pokok iman Kristiani.
Kebenaran Konsili Nicea?
Jauh sebelum Konsili Nicea, yang digelar pada tahun 325, gereja pada
zaman para rasul atau gereja mula-mula telah mengajarkan bahwa Yesus
adalah Tuhan, dan ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus tentang
diri-Nya kepada para murid-Nya (lihat Injil Matius
Beberapa bukti keyakinan gereja mula-mula ini dapat dilihat antara lain
di dalam kitab Didache (ditulis sebelum tahun 100), yang pada intinya
mengajarkan tentang praktika ibadah Kristiani dan dengan jelas
menuliskan pokok iman Kristiani: Yesus adalah Tuhan.
Contoh yang lain adalah tulisan-tulisan Yustinus Martir, bapa gereja dan
apologet terkemuka pada awal abad kedua, yang dua abad sebelum Konsili
Nicea telah menegaskan keilahian Yesus Kristus.
Bukti lain adalah ajaran Uskup Irenaeus, dari Lungdunum, tokoh yang
sangat terpandang pada awal abad kedua, yang mengacu kepada tulisan
dalam 1Korintus 8:6, yang berbunyi: "Namun bagi kita hanya ada satu
Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan
yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus."
Dengan kata lain, ajaran Yesus adalah Tuhan sama sekali bukanlah ide
Kaisar Konstantin yang dalam agenda politiknya bermaksud menyatukan kaum
kafir dengan pemeluk agama Kristen di negara Romawi, dengan mencampurkan
ajaran kafir dan Kristen melalui Konsili Nicea.
Diakui dalam Konsili Nicea dirumuskan syahadat atau pengakuan iman
Kristiani, namun isi pengakuan iman tersebut bukanlah pemasukan ajaran
baru yang bersumber dari ajaran kafir ke dalam ajaran Kristiani. Kredo
yang dirumuskan itu merupakan penegasan inti jaran Kristiani yang sudah
ada tiga abad sebelumnya.
Penegasan ini dinilai perlu karena pada masa itu muncul ajaran baru yang
dikembangkan oleh Arius, seorang teolog dari Aleksandria, Mesir, yang
menyangkali keilahian Yesus.
Dan Brown melalui mulut tokoh yang ia ciptakan, Teabing, berkata bahwa
di dalam Konsili Nicea telah diadakan pemungutan suara, untuk menentukan
apakah Yesus adalah Tuhan atau manusia. Ia mengatakan bahwa voting
tersebut menghasilkan suara yang hampir seimbang di antara pendukung dan
penentang ajaran Yesus sebagai Tuhan. Dalam realita sejarah, saat
dilakukan pemungutan suara, dari tiga ratus uskup yang hadir pada
konsili tersebut hanya dua orang saja yang menentang rumusan Pengakuan
Iman Nicea. Jadi sungguh jauh dari yang disebut oleh Dan Brown sebagai
suara hampir seimbang! Padahal sebagian besar dari para uskup yang hadir
berasal dari wilayah Timur, tempat
Arius menyebarkan ajarannya.
Dan Brown sangat benar saat ia menulis bahwa "Alkitab tidak datang
dengan cara difaks dari surga." Sebab kekristenan tidak mengajarkan
bahwa setiap kata dan kalimat di dalam Alkitab didikte dari surga kepada
para penulisnya. Tetapi Dan Brown sangat keliru saat mengatakan
Konstantin-lah penyusun dan yang memilih kitab Injil mana yang boleh
dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru melalui Konsili Nicea. Menurut
Brown, Konstantin telah memilih kitab-kitab yang membuat Yesus seakan
adalah Tuhan, sedangkan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala
perilaku manusiawi Yesus dikumpulkan lalu dibakar.
Dan Brown keliru, karena ia menyembunyikan fakta sejarah bahwa
sesungguhnya daftar yang
Baru sudah tersusun dua abad sebelum Konsili Nicea. Salah satu kanon
yang paling terkenal adalah kanon Muratorian yang disusun pada tahun
190. Disitu dicantumkan dua puluh sembilan kitab dan
Baru, dua puluh tujuh kitab di antaranya sama persis dengan kanon Kitab
Perjanjian Baru yang ada saat ini, dengan dua tambahan yaitu kitab Wahyu
kepada Petrus dan kitab Hikmat Salomo.
Pada masa berikutnya para bapa gereja mengeluarkan kedua kitab tersebut
dari kanon Perjanjian Baru karena dipandang isinya tak setara dengan
kitab-kitab kanonik. Kanon lain adalah tulisan Irenaeus pada awal abad
kedua, yang mendaftarkan keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang ada
sekarang sebagai kitab suci.
Jadi, dalam Konsili Nicea tidak disusun kanon Perjanjian Baru, tetapi
diperdebatkan keabsahan dari beberapa kitab yang ada di dalam kanon
Perjanjian Baru, khususnya kitab Ibrani dan Wahyu. Alasan perdebatan
tersebut karena pada kedua kitab tersebut tidak dicantumkan nama sang
penulis secara eksplisit seperti pada kitab-kitab Perjanjian Baru
lainnya. Bagi para pemimpin gereja di abad mula-mula kejelasan nama
penulis kitab atau
dari kanon.
Lebih lanjut Dan Brown mengatakan kumpulan kitab-kitab Injil yang sejati
yang dicoba dimusnahkan oleh Kaisar Konstantin ada yang berhasil
diselamatkan. Kumpulan tersebut ditemukan kembali di Gua Qumran dekat
Laut Mati pada tahun 1950-an, yaitu Dead Sea Scrolls, dan gulungan kitab
di Nag Hammadi pada tahun 1945. Memang benar di kedua tempat itu
ditemukan gulungan-gulungan kitab tersebut, namun gulungan-gulungan
tersebut bukan kitab Injil yang sejati!
Dead Sea Scrolls sama sekali tidak berisi sepotong pun kitab yang
disebut sebagai Injil, sebaliknya berisi fragmen-fragmen dari
kitab-kitab Perjanjian Lama yang isinya sangat persis dengan kitab
Perjanjian Lama saat ini. Sehingga ia justru membuktikan keakuratan isi
kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab. Dalam Dead Sea Scrolls juga
ditemukan catatan tentang aturan kehidupan kaum petapa Essenes, suatu
kelompok agama Yahudi sebelum masa agama Kristen.
Sedangkan isi kitab-kitab di dalam gulungan Nag Hammadi sangat jauh
untuk dapat dikatakan sebagai Injil yang sejati. Kitab-kitab tersebut
disebut sebagai kitab Gnostik, yakni aliran kebatinan yang mulai muncul
di gereja sejak awal abad kedua.
Kitab-kitab dalam gulungan Nag Hammadi tersebut ditulis oleh pengikut
aliran ini pada akhir abad kedua sampai dengan abad kelima, bukan pada
zaman para rasul! Kitab-kitab tersebut berisi dongeng dan mitos khas
kaum Gnostik, mutu etikanya kelewat rendah dan sangat bertentangan
dengan doktrin Perjanjian Lama tentang pribadi Allah sebagai Pencipta
Langit dan Bumi, sehingga oleh gereja mula-mula pun sama sekali tidak
dipandang sebagai kitab yang suci.
Kesimpulan Dan Brown ini tanpa bukti ilmiah, sebab tak satu pun naskah
pada zaman para rasul dan bapa-bapa gereja yang mencatat bahwa Yesus
menikah. Namun, untuk mendukung pernyataannya Dan Brown menggunakan tiga
"bukti." Namun bila diteliti tiga "bukti" itu dengan mudah terlihat
sebagai kesimpulan yang gegabah.
"Bukti" pertamanya adalah lukisan The Last Supper karya Leonardo Da
Vinci. Tanpa dasar jelas ia mengatakan gambar orang berwajah halus, yang
mirip wanita, duduk di sebelah kanan Yesus di dalam lukisan tersebut
adalah Maria Magdalena! Untuk membuktikan pendapatnya bahwa Yesus
menikahi "Maria Magdalena"
tersebut, Dan Brown menggunakan metode otak-atik gathuk, istilah bahasa
Jawa yang berarti "diotak-atik supaya jadi cocok." Dia mengotak-atik
detil di dalam lukisan tersebut sedemikian rupa supaya mendukung
pernyataannya. Hanya saja ia tidak menyebutkan suatu fakta dalam dunia
seni bahwa para pelukis abad pertengahan, yaitu zamannya Leonardo Da
Vinci, seorang pria belia sering dilukis dengan wajah feminim. Hal yang
sama dilakukan Leonardo Da Vinci saat melukiskan wajah Yohanes, murid
Yesus Kristus yang termuda, dalam lukisan The Last Supper di atas.
"Bukti" kedua yang ia gunakan adalah pendapatnya bahwa dalam kepantasan
sosial pada zaman Yesus Kristus, bahwa seorang lelaki Yahudi terlarang
untuk tidak menikah. Menurut Brown, dalam adat Yahudi tidak menikah
adalah hal terkutuk. Jelas pernyataan ini tidak berdasar, sebab
merupakan fakta sejarah ada banyak pria Yahudi pada zaman itu yang
menjadi nazir, yang karena alasan keyakinan keagamaan ada di antara
mereka yang tidak menikah. Sebagai contoh adalah kaum Essenes yang
menyimpan gulungan kitab Dead Sea Scrolls di atas. Di samping itu
merupakan suatu fakta pula bahwa orang Yahudi sangat menghormati
tokoh-tokoh di dalam Perjanjian Lama yang tidak menikah, seperti nabi
Daniel, yang adalah seorang sida-sida Yahudi di negara Babilonia.
"Bukti" ketiga yang ia gunakan adalah Injil Philip yang menyebutkan
bahwa Yesus mencintai Maria Magdalena lebih dari pada seluruh murid-Nya
dan Yesus sering mencium Maria. Patut diketahui bahwa yang disebut
sebagai Injil Philip sesungguhnya sama sekali bukan kitab Injil,
melainkan sebuah kitab Gnostik yang ditulis sekitar pada abad ketiga.
Kitab ini disebut sebagai Injil Philip bukan karena ia ditulis oleh
Rasul Filipus, tetapi karena di dalam kitab Gnostik tersebut tidak
disinggung nama rasul-rasul Tuhan Yesus yang lain, kecuali hanya nama
Rasul Filipus. Dan Brown juga tidak menyebutkan bahwa Injil Philip yang
ditemukan dalam gulungan Nag Hammadi tersebut tidak ditulis di dalam
bahasa Yunani ataupun berlatar belakang bahasa Yunani sebagaimana
layaknya kitab-kitab Perjanjian Baru, namun di dalam bahasa Koptik,
yaitu bahasa Mesir dan dengan latar belakang bahasa Siria!
Kesimpulan
Sejak gereja berdiri dua ribu tahun yang lampau serangan terhadap
pokok-pokok iman Kristiani tidak pernah berhenti. Serangan tersebut
berasal dari kelompok bidat di dalam gereja sendiri, maupun dari
orang-orang yang tidak mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru
Selamat manusia.Jadi, hujatan dalam buku The Da Vinci Code bukan hal
baru. Hanya saja kali ini hujatan ini menjadi meluas karena ditunjang
dengan sistem promosi dan pemasaran yang sangat canggih, yang
mendatangkan keuntungan finansial luar biasa bagi pihak penulis dan
penerbit buku ini.
Di samping itu juga karena di wilayah-wilayah tertentu di dunia buku ini
dipopulerkan oleh pribadi-pribadi yang tidak menginginkan terbangunnya
kerukunan umat beragama di tengah masyarakat.
Mengapa orang Kristen tidak menanggapi hujatan di dalam buku The Da
Vinci Code dengan amarah yang membabi-buta dan berbuat keonaran? Hal ini
bukan karena mayoritas orang Kristen yang terdidik mengetahui bahwa
Yesus memang seorang manusia yang karena manuver politik Konstantin
telah dijadikan Tuhan, sehingga tidak mampu menjawab hujatan tersebut
(seperti dikatakan Dan Brown di dalam bukunya). Justru sebaliknya, orang
Kristen yang berpikir obyektif, kritis dan memahami metoda ilmiah yang
masuk nalar serta mengetahui sejarah iman mereka, akan dapat melihat
hujatan di dalam novel The Da Vinci Code tersebut bersifat fitnah
murahan.
Di samping itu orang Kristen menghayati firman Tuhan bahwa "Janganlah Galatia
5:22 ) di dalam kehidupan orang yang hidup di dalam anugerah Tuhan.
membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua
orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam
perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:17-18). Perilaku kasih ini
bukanlah tanda kelemahan, justru sebaliknya kemampuan untuk
mengendalikan emosi secara dewasa merupakan bukti dari buah Roh (
Di sisi yang lain, buku-buku seperti The Da Vinci Code harus membuat 3:15 -16). ***
orang Kristen lebih giat lagi membaca dan mempelajari Alkitab, memahami
pokok-pokok ajaran iman yang sehat, dan sejarah gereja dengan baik.
Dengan demikian mereka akan dapat "menjadi seorang pelayan Kristus Yesus
yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran sehat
yang telah mereka ikuti selama ini." (1Timotius 4:6), serta mampu
menjawab setiap hujatan tersebut sesuai dengan nasihat firman Tuhan:
"Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab
kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut
dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang
memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu
karena fitnahan mereka itu." (1Petrus
May 19th, 2006 at 6:10 am
yah, namanya juga pengarang… biarin aja lah dia mo cerita suka hatinya… kayak coca cola gitulah, sensasi pertama minumnya enak, abis itu yah biasa aja.. besok2 orang juga lupa… hehehe…
have a nice day \(^_^)/
June 14th, 2006 at 2:53 am
hey henn! thank you for appreciating my poems.. biasa nya tuhan itu yang penulis untuk ku.. =) i just used his words.. hehe
December 29th, 2006 at 10:01 pm
setuju sama mba hen… ^_^
ni buku ga sepatutnya bikin bingung iman kristen… :p v baru nonton sih pelemnya akhir2 ini, jadi baru deh… walo dah telat gpp deh…
menurut v, dari sisi sastranya pun ni buku rada aneh, ga masuk akal gitu deh… pokoke klo org kristen jadi bingung gara2 nonton or baca da vinci code, mereka kudu tanya sama diri sendiri apakah mereka itu bener2 udah terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat atau belum…
February 4th, 2008 at 6:43 pm
Wah ini bagus baget